Skip to main content

SEDEKAH DI MASA PANDEMI CORONA


Berangkat dari firman Allah:
قُلْ لِعِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا يُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خِلَالٌ
“Katakanlah (Muhammad) kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman, “hendaklah mereka melaksanakakan sholat, menginfakkan sebagian rezeki yang telah kami berikan, secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan sebelum datang hari, ketika tidak ada lagi jual beli dan persahabatan” (Qs. Ibrahim [14]: 31)
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Maka kamu bertaqwalah kepada Allah sesuai kesanggupanmu dan dengar serta ta’atlah. Dan infaqlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa yang dirinya dijaga dari kekikiran, maka itulah orang yang beruntung” (Qs. at-Taghabun [64]: 16)
Rasulullah bersabda
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا سَيُكَلِّمُهُ اللهُ، لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ، فَيَنْظُرُ أَيْمَنَ مِنْهُ فَلَا يَرَى إِلَّا مَا قَدَّمَ، وَيَنْظُرُ أَشْأَمَ مِنْهُ فَلَا يَرَى إِلَّا مَا قَدَّمَ، وَيَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلَا يَرَى إِلَّا النَّارَ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ، فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ
“Tidak satupun dari kalian kecuali akan diajak berbicara oleh Allah, dan tidak ada penerjemah di antara dia dengan Allah. Maka orang yang diajak berbicara itu kemudian melihat ke kanan dan tidak dia lihat kecuali apa yang telah di perbuat. Kemudian dia melihat ke kiri juga tidak ada yang dia lihat kecuali apa yang telah dia perbuat. Kemudian dia melihat ke depan dan di hadapannya tidak ada apapun kecuali neraka di depan wajahnya. Maka, takutlah kalian dengan neraka, meski hanya dengan satu butir kurma” (Hr. Bukhari, no. 6529 dan Muslim, no. 1016)
Ada cara menolak bala, selain bertawakkal, berprasangka baik kepada Allah, berdoa dan kembali kepada Allah, beristighfar, dan merutinkan itu semua siang-malam sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan. Cara ini harus diketahui, ada satu amalan yang harus kita lakukan dan tidak kalah penting dengan amalan sebelum-sebelumnya. Amalan itu adalah sedekah. Hal ini sebagaimana yang telah disebutkan dalam sabda Rasulullah berikut ini,
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ، قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ إِلَى المُصَلَّى، فَمَرَّ عَلَى النِّسَاءِ، فَقَالَ: «يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ» متفق عليه
“Dari Sa’id al-Khudri berkata: Rasulullah pernah keluar menuju tempat shalat pada hari raya idul adha atau idul fitri. Kemudian beliau melewati rombongan para wanita, dan bersabda: “wahai para wanita, beresedekahlah, karena sesungguhnya aku melihat kebanyakan penghuni neraka adalah dari kalian” (Hr. Bukhari, no. 304 & Muslim, no. 889)
Seorang ulama ahli hadits bernama al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan:
وفي هذا الحديث من الفوائد... أن الصدقةَ تدفَعُ العذاب
“Hadits ini memiliki beberapa faidah diantaranya, bahwa sedekah itu bisa menolak adzab” [Fathul Bari. Jilid I, hal. 406]
Ibnu Qayyim mengatakan:
للصدقة تأثيرٌ عجيب في دفع أنواع البلاء، ولو كانت من فاجر أو ظالم، بل مِن كافر، فإن الله تعالى يدفع بها عنه أنواعًا من البلاءِ، وهذا أمرٌ معلوم عند الناس، خاصتهم وعامتهم، وأهل الأرض كلُّهم مُقِرُّون به؛ لأنهم قد جرَّبوه
“Sedekah itu bisa memberikan efek yang ajaib dalam menolak bala. Meskipun yang melakukan tersebut adalah seorang pendosa atau pelaku kedzaliman, bahkan orang kafir sekalipun. Karena sesungguhnya Allah akan menolak berbagai macam bala dengan amalan sedekah. Perkara ini telah diketahui manusia secara luas. Dan penduduk bumi telah sepakat dengan ini, karena mereka telah mencobanya” [al-Wabil al-Shaib min al-Kalim al-Thayyib, hal. 31]
Dalam perkataan Ibnu Qayyim yang lain:
في الصدقة فوائدُ ومنافع لا يحصيها إلا الله؛ فمنها أنها تقي مصارعَ السوء، وتدفع البلاء حتى إنها لتدفَعُ عن الظالم
“Dalam bersedekah terdapat faidah dan manfaat-manfaat yang tidak terhitung kecuali oleh Allah. Di antaranya menjaga dari tipu daya orang jahat, menolak bala, bahkan bisa molak kedzoliman” [Uddatush Shabirin wa Dzakhiratusy Syakirin, hal. 254]
Pada saat kondisi seseorang sakit atau dalam masa-masa pandemi, ada hadits khusus yang mengatakan:
وَدَاوُوا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ
“Obatilah penyakit kalian dengan bersedekah” (Hr. Abu Dauwud, dalam kitab al-Marasil no. 105)
Ibnu Haj rahimahullah mengatakan:
والمقصود من الصدقة أن المريض يشتري نفسه من ربه سبحانه بقدر ما تساوي نفسه عنده، والصدقة لا بد لها من تأثير على القطع؛ لأن المخبر صلى الله عليه وسلم صادق، والمخبَر عنه كريم منان
“Artinya ketika seorang sedang sakit, dia akan menbeli dirinya dari Allah dengan harga yang setimpal, dan sedekah itu pasti akan memberikan efek baik. (Kita percaya) karena yang telah mengabarkan ini adalah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam yang jujur, murah hati dan sangat dermawan.” [al-Madkhal. Jilid IV, hal. 141]
Selain itu juga diceritakan bahwa seseorang pernah bertanya kepada Abdullah bin al-Mubarak tentang penyakit luka bernanah yang ada di lututnya selama tujuh tahun, dan dia telah berobat ke dokter manapun tapi belum sembuh. Maka Abdullah bin Mubarak memerintahkan orang itu untuk menggali sumur di tengah-tengah masyarakat yang sangat membutuhkan air bersih. Dan Abdullah bin al-Murak mengatakan “aku berharap dengan mata air yang memancar itu bisa menghentikan aliran lukamu.” [al-Zawajir an al-I’tiraf al-Kaba’ir. Jilid I, hal. 123]
Dalam kisah lain, Seorang Abu Abdillah al-Hakim penulis kitab Mustadarak memiliki luka bernananah di wajahnya hampir 1 tahun lamanya. Kemudian dia meminta do’a kesembuhan kepada banyak orang-orang baik, kemudian dia bersedekah kepada kaum muslimin dengan cara meletakkan penampungan air yang di bangun di depan rumahnya. Akhirnya di situ air sangat melimpah dan masyarakat banyak yang mengambilnya untuk minum. Dan tidak sampai 1 minggu nanahnya hilang dan lukanya itu sembuh. Wajahnya bahkan kembali mulus lebih baik dari pada sebelumnya. (Hr. Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman. Jilid V, no. 29)
Kisah itu sebenarnya sangat wajar, karena Rasulullah bersabda:
الْمَعْرُوفُ إِلَى النَّاسِ يَقِي صَاحِبَهَا مَصَارِعَ السُّوءِ، وَالْآفَاتِ، وَالْهَلَكَاتِ
“Kebaikan yang dilakukan kepada manusia akan melindungi pelakunya dari perbuatan jahat, kesialan, dan kebinasaan” (Hr. al-Hakim dalam kitab Mustadrak, no. 943 dan al-Thabrani dalam kitab al-Ausath, no. 943)
Kemudian perhatikan juga perkataan Rasulullah pada saat masyarakat madinah ketakutan dengan adanya gerhana matahari, beliau bersabda:
فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ، فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا»
“Jika kalian melihat itu (gerhana), berdo’alah kepada Allah, perbanyaklah takbir, sholat dan besedekahlah” (Hr. Bukhari, no. 1044 dan Muslim, no. 901)
Ibnu Daqiq al-Id menjelaskan, hadits ini merupakan sebuah petunjuk bahwa bersedekah pada waktu-waktu mengerikan adalah sunnah. Sebagai bentuk penolak bala dan hal-hal yang dikhawatirkan. [Ihkam al-Ahkam Syarh Umdat al-Ahkam. Jilid 1, hal. 353]
Sebuah kisah tentang sedekah, bahwasanya seorang sahabat bernama Abu Thalhah, ketika itu  termasuk orang kaya yang kebun kurmanya paling banyak di Madinah. Salah satu kebun yang paling disukainya adalah ‘bairukha’. Kebun ini letaknya ada di depan masjid. Rasulullah suka masuk ke kebun tersebut untuk minum dari mata airnya yang segar.
Suatu ketika turun ayat yang berbunyi:
لَنْ تَنَالُوا البِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ
“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu meninfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (Qs. Ali Imran [3]: 92)
Abu Tholhah ketika mendengar ayat ini, beliau langsung pergi menghadap Rasulullah dan menceritakan, bahwa dirinya telah mendengar kabar turunnya ayat tadi. Dan mengatakan: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya harta yang paling saya cintai adalah kebun ‘bairukha’. Saat ini juga saya infakkan untuk Allah. Saya berharap kebajikan dan tabungan kebaikan di sisi Allah. Maka bagikanlah wahai Rasulullah untuk orang-orang yang pantas menurut anda.
Rasulullah ketika mendengar itu terkagum mengatakan, “Harta itu akan harta yang menguntungkan (di hadapan Allah)” beliau sampai mengucapkannya 2 kali.
Kemudian Rasulullah melanjutkan, “saya telah mendengar apa yang engkau katakan, dan saya munyarankan untuk menginfakkannya kepada keluargamu”
Abu Thalhah menjawab, “Aku akan melakukannya ya Rasulullah” Kemudian Abu Thalhah mensedekahkannya kepada kerabatnya dan sepupu-sepunya. (Hr. Bukhari, no. 1423 dan Muslim, no. 1031)
Pada saat-saat pandemi corona seperti ini banyak dari kaum muslimin yang ingin berangkat haji. Tapi sepertinya perkataan Imam Ahmad yang mengingatkan tentang mana yang lebih utama, berangkat haji atau melakukan sedekah bisa menjadi sebuah pertimbangan. Imam Ahmad pernah ditanya seseorang, “Manakah yang lebih utama, Haji nafilah atau menyambung tali kekerabatan (dengan harta)?”
Imam Ahmad menjawab, “Jika kerabat-kerabat itu dalam kondisi yang membutuhkan, maka menyambung tali kekerabatan (dengan harta) lebih saya sukai”. [al-Furu’ wa Tashih al-Furu’. Jilid IV, hal. 386]
Sebagai penutup mari kita banyak melakukan sedekah dengan niat supaya Allah segera menerima sedekah itu. Kemudian supa Allah segera menghentikan pandemi corona ini. Wallahu a’lam

Comments

Popular posts from this blog

Perbedaan Adat dan Urf dalam Disiplin Ilmu Ushul Fiqh

A.    Definisi Adat dan Urf Definisi adat: العادة ما استمرّ الناس عليه على حكم المعقول وعادوا اليه مرّة بعد أخرى Adat adalah suatu perbuatan atau perkataan yang terus menerus dilakukan oleh manusia lantaran dapat diterima akal dan secara kontinyu manusia mau mengulangnya.

KAJIAN HADITS ‘KULLU QORDHIN JARRO NAF’AN FAHUWA RIBA’ DALAM PANDANGAN MUHADDITSIN DAN FUQAHA’

Oleh: Amri Yasir Mustaqim [1] Hadits كل قرض جر نفعا فهو ربا dikategorikan oleh muhadditsin sebagai hadits yang marfu’, mauquf dan juga maqtu’. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

DAMPAK MENGERIKAN MAKANAN HARAM (khutbah Ust. Abdullah Manaf Amin)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله ..... لا اله الا الله و الله أكبر... الله أكبر و لله الحمد إِنَّ اْلحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ ونستغفره  ونستهديه و نتوب اليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهدى الله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له, أشهد أن لاإله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله, اللهم صلى على محمد وعلى اله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلي يوم الدين أما بعد, قال تعالى فى القران الكريم, أعوذ بالله من الشيطان الرجيم... يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ (ال عمرن: 102) يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً (النساء: 1) ياأيها الذين امنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله وؤسول...

Pengertian Dosa Besar dan Dosa Kecil dalam Syariat Islam Beserta Contohnya

PENGERTIAN DOSA BESAR DAN DOSA KECIL Dosa adalah meninggalkan apa saja yang telah diperintahkan oleh Allah ta’ala, baik perintah itu berupa perintah untuk dikerjakan atau melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah ta’ala untuk dijauhi. Baik itu berupa perbuatan atau perkataan, yang bentuknya lahir maupun yang dilakukan secara batin. [1]

Dowload Buku Iqro’ 1-6 pdf

Siapa yang tidak kenal dengan buku iqro’? hampir tidak ada di Indonesia ini yang tidak mengenal buku iqro’. Buku ini sangat populer diseluruh anak Indonesia yang ingin belajar membaca al-Qur’an.

Apakah Sujud Tilawah Harus Takbir Dan Salam?

Sujud tilawah menurut ulama Syafi’iyyah memerlukan takbiratul ihram dan diwajibkan untuk mengucapkan salam setelah selesai. sedangkan menurut ulama Hanafiyyah, sujud tilawah tidak perlu takbiratul ihram dan tidak diwajibkan salam. Sumber: al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, vol.2, hal. 260 (Terjemahan) Kampung Damai, 5 Oktober 2019

Ashabul A’rof dan Akhir Perjalanan Mereka

Siapa itu ashabul a’rof ? Bagaiman nasib akhir kehidupan ashabul a’rof ? Apakah a’rof adalah tempat akhir selain surga dan neraka? Tulisan ini insya Allah akan menjelaskan pertanyaan-pertanyaan tersebut. PENGERTIAN ASHABUL A’ROF Di akhirat kelak ada tempat selain dari surga dan neraka bernama ‘ al-A’rof ’. Secara definitif prespektif etimologi dari bahasa arab yang artinya adalah ‘tempat tinggi’. Secara istilah artinya adalah tempat yang tinggi berada diantara surga dan neraka, dimana orang yang berada di situ bisa melihat penduduk surga dan neraka. Orang-orang yang berada di tempat ini adalah orang-orang yang pahala kebaikannya dan dosa keburukannya memiliki berat yang sama. Kemudian orang yang berada ditempat ini akan dimasukkan kedalam surga bukan di neraka. Di antara kriteria ashabul a’rof adalah orang-orang yang keluar berjihad di jalan Allah tanpa izin orang tua. Kemudian mereka ini terbebas dari neraka karena mereka terbunuh di jalan Allah. Dan mereka tertahan untuk...

ACUAN TARGET HAFALAN AL-QUR’AN PER BARIS, PER BULAN SAMPAI HAFIZH 30 JUZ

Apakah anda ingin menghafal al-Qu’an? Jika memang iya, ini adalah target waktu hafalan al-Qur’an yang bisa anda pilih dengan kondisi dan kemampuan anda masing-masing. Anda bisa menimbang antara target dan kemampuan. Dengan memiliki target ini anda bisa mengukur kapan anda bisa selesai menghafal al-Qur’an. Menghafal al-Qur’an adalah program seumur hidup. Jika anda tidak memiliki target, sebaik apapun kemampuan, anda tidak akan tercapai. Namun jika anda menghitungnya dengan tepat anda akan mendapatkannya. Meskipun dengan relatif waktu yang tidak cepat. Asalkan memiliki komitmen yang kuat. Berikut adalah acuan hafalan yang anda dapatkan jika anda menghafal al-Qur’an perbaris. Acuan al-Qur’an yang digunakan dalam tulisan ini adalah mushaf utsmani yang 1 halamannya berjumlah 15 baris. 1 juz berjumlah 20 halaman. Ø   Jika anda menghafal 1 baris sehari, maka anda akan hafal 1 juz dalam 10 bulan, dan hafal al-Qur’an dalam 24 tahun 4 bulan. Ø   Jika anda menghafal 2 baris se...

KATA HATI DAN AMAL HATI

Dari seluruh unsur pembentuk iman yang hakiki dan membuat seseorang benar-benar berstatus mengabdi kepada Allah adalah kata hati dan amal hati. Kata lisan dan amal anggota badan hanya menyelamatkan seseorang secara duniawi. Tanpa kata hati dan amal hati, kata lisan dan amal anggota badan yang dilakukan seseorang hanya sia-sia belaka. Sebagaimana yang dikutip oleh Ibnu Rajab al-Hanbali (dalam kitab Jami’ al-Ulum wa al-Hikam, 1/57) Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, وكان الإجماع من الصحابة والتابعين من بعدهم ومن أدركناهم يقولون: الإيمان قول وعمل ونية، لا يجزئ أحد الثلاثة إلا بالآخر Artinya: “Termasuk perkara ijma’ para sahabat dan tabi’in setelah para sahabat dan ulama yang kami temui, menereka mengatakan: Iman itu adalah perkataan, amalan dan niat. Ketiganya tidak bisa mencukupi yang lainnya kecuali dengan keberadaan yang lain (salah satu melengkapi ketiganya).” Salah dalam membentuk kata hati dan amal hati akan menjadi gerbang kemunafikan bagi seseorang. Orang-orang mun...

Hukum Makan-Makan Untuk Rumah Baru

Selametan rumah baru hukumnya sunnah Disebutkan dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah (8/207), الْوَلِيمَةُ لِلْبِنَاءِ مُسْتَحَبَّةٌ ، كَبَقِيَّةِ الْوَلاَئِمِ الَّتِي تُقَامُ لِحُدُوثِ سُرُورٍ أَوِ انْدِفَاعِ شَرٍّ “Acara makan-makan untuk rumah baru itu dianjurkan sebagaimana walimah (acara makan-makan) lainnya (seperti pada pernikahan) yang di mana walimahan tersebut dilakukan untuk berbagi kebahagiaan atau menghilangkan suatu bahaya (rasa tidak senang dari lainnya).”