Skip to main content

KHUTBAH JUMAT (3) KEBAHAGIAAN DALAM HIDUP

KHUTBAH PERTAMA

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على رسوله الكريم، وعلى آله وصحبه أجمعين، اللهّم صلّ على محمّد وعلى أل محمّد كما صلّيت على إبراهيم و على أل إبراهيم إنك حميد مجيد.

فيا عباد الله أوصيكم وإياي نفسي بتقوى الله، حيث قال جلّ و على في كتابه التنزيل (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ) و (  َيا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ) وقال في أية الأخرى  ( يا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ) أمّا بعد.

Jamaah sholat jumat yang dirahmati Allah...

Marilah kita bersyukur kepada Allah ta’ala. Karena Allah telah memberikan banyak sekali kenikmatan yang membuat kita bisa selalu beribadah kepada Allah. Baik itu yang berupa kondisi tubuh kita yang sehat terhindar dari virus. Begitu juga waktu yang diberikan oleh Allah sehingga kita masih bisa menjalankan sholat jum’at secara berjamaah.

Mari kita lantunkan selalu Sholawat dan salam untuk nabi kita, rasul kita, Nabiyullah Muhammad saw. yang mana dengan kehadiran beliau di dunia ini, akhirnya kita bisa mengenal Allah dan bagaimana kita juga bisa kembali kelak menuju surganya Allah.

Tidak lupa khatib selalu mengingatkan kepada jama’ah sekalian untuk selalu bertakwa. Bertakwa adalah sebuah sikap untuk selalu menjalankan apa yang diperintah oleh Allah dan meninggalkan apapun yang dilarang oleh Allah semampu kita. Semoga dengan ketaqwaan ini kita mendapatkan ridha. Setelah ridha Allah telah kita dapat, tentu tidak ada balasan selain surga di akhirat kelak.

Jamaah yang dirahmati Allah...

Kebahagian adalah suasana hati yang tenang, kesanggupan hati untuk ridha dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah kepada kita, dan perasaan yang mengkombinasikan antara optimisme dan menerima apun yang terjadi pada hidup. Semua manusia di dunia ini menginginkan kebahagiaan. Akan tetapi di mana kita bisa mendapat kebahagiaan itu? Apakah bisa didapatkan di istana-istana yang megah? Atau di rumah-rumah yang mewah? Atau taman taman yang indah? Atau dengan harta yang melimpah? Atau dengan ketenaran dan menjadi terkenal?

Tentu itu semua bukanlah tempat kebahagiaan. Karena bahagia adalah ketenangan fikiran. Kesenangan dari dalam hati yang lapang. Dan kebaikan yang selalu memenuhi hati seorang mukmin.

Kebahagiaan menurut salafush shalih (generasi awal umat Islam) –semoga Allah meridhoi mereka- bisa didapat dengan sedikitnya materi yang ada digenggaman. Bisa didapat juga dengan sedikitnya penghasilan dan seklimit harta. Sehingga Sa’id bin Musayyib bisa bahagia dengan ilmu yang dimiliki. Imam Bukhari bisa bahagia dengan karya kitab shahihnya. Hasan al-Bashri dengan kejujurannya. Imam Syafi’i dengan kemantapan istinbathnya. Imam Malik dengan keluasan pengetahuan fiqihnya. Imam Ahmad dengan ketinggian sikap wara’nya. Semua ini kemudian dibenarkan oleh firman Allah,

مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ ۖ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ ۗ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan Kami pasti akan Memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami Berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami Beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. al-Nahl: 96-97)

Banyak manusia yang mengira hanya dengan rumah luas dan penuh dengan perabotan yang akan menjadi penyebab utama kebahagiaan. Padahal justru sebaliknya, semua itu penyebab utama kesedihan dan kesempitan hati. Sebab Allah berfirman,

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجاً مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami Berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia, agar Kami Uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhan-mu lebih baik dan lebih kekal.” (Qs. Thaha: 131)

Dan tentang dunia ini Rasulullah saw. bersabda,

الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ذكر الله، وما والاه، أو عالما، أو متعلما

“Dunia itu terlaknat dan terlaknat juga apa yang ada di dalamnya kecuali dzirkir mengingat Allah dan orang yang mengikuti dzikir itu, serta orang yang mengajarkan dan mempelajari ilmu” (Hr. Ibnu Majah)

Hadits ini menjelaskan tentang hakikat dunia dan isinya, yang berupa rumah, istana-istana, kenikmatannya, perbendaharaannya dan semua yang ada di dalam dunia ini. Dunia ini kemudian menjadi tempat yang luas bagi orang-orang kafir dan menjadi sempit bagi orang yang mukmin. Hal ini karena dunia adalah ujian dari Allah rabb semesta alam.

Kodisi kehidupan Rasulullah saw. sangat faqir dan terbiasa dengan lilitan rasa lapar. Beliau bahkan tidak bisa mendapatkan sebuah kurma satu butirpun, meski itu kurma yang paling jelek untuk menutupi rasa lapar. Meski kondisi kehidupannya beliau seperti itu, beliau selalu nyaman, gembira, luas hatinya dan tenang.

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى -٣- وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْأُولَى -٤- وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى

“Tuhan-mu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu, dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan. Dan sungguh, kelak Tuhan-mu pasti Memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.” (Qs. al-Dhuha: 3-5)

Keislaman seorang muslim pada hakikatnya lebih mulia dari pada kerajaan dan istana kisra. Karena dengan agamanya itu kelak ia akan menempati surga yang penuh dengan kenikmatan. Sedangkan nasab dan ketenaran itu hanyalah penyebab seseorang menjadi tergelincir. Sebagaimana yang Allah firmankan,

إِنَّا نَحْنُ نَرِثُ الْأَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا وَإِلَيْنَا يُرْجَعُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang Mewarisi bumi dan semua yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kami mereka dikembalikan.” (Qs. Maryam: 40)

Seorang sahabat bernama Utbah bin Ghazwan ra. pernah berkhutbah dengan sangat menakjubkan tentang bagaimana kondisi ketika beliau hidup bersama Rasulullah saw.. Dia memakan dedaunan bersama Rasulullah saat berjihad di Jalan Allah. Kejadian ini adalah kenangan manis dia bersama Rasulullah saw. yang selalu beliau kenang setelah Rasulullah saw. meninggal. Akhirnya Utbah bin Ghazwan ini menjadi seorang pemimpin dan hakim.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah...

Ketika Umar bin Khattab bertemu al-Habib Nabi Muhammad al-Mushtafa saw. dan masuk ke dalam rumahnya. Beliau kemudian masuk ke dalam ruang makan-makan minum Rasulullah saw.. Tatkala itu beliau melihat ada bekas tikar pelepah kurma yang membekas pada punggung Rasulullah. Kemudian ia juga tidak meliahta makanan apapun yang ada di dalam rumah Rasulullah selain beberapa untai gandum yang tergelantung. Akhirnya Umar menangis karena prihatin. Sembari berkata kepada Rasulullah saw., 

Do’akan umat anda ya Rasul agar bisa hidup dengan keluasan, karena mereka telah meluaskan wilayahnya dengan penaklukan Persi dan Romawi yang mereka tidak menyembah Allah.”

Nabi kemudian menjawab,

“Apakah engkau ragu-ragu wahai Ibnu Khattab? Mereka (Pesia dan Romawi) adalah orang-orang yang dipercepat kesenangan mereka di dunia” (Hr. Muslim)

Kemudian dalam riwayat Bukhari, Umar pernah juga berkata tentang sifat-sifat Rasulullah. Rasulullah ketika tidur beralaskan pelepah kurma tanpa alas lain. Sedang di kepalanya ada bantal yang terbuat dari kulit binatang yang diisi dengan sabut kurma. Di bawah kaki beliau terdapat dedainan yang biasa dipakai menyamak kulit. Sedang di kepala beliau tergantung kulit yang sudah disamak. Sehingga Umar kemudian menangis. Rasulullah pun bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?”

Umar menjawab, “Wahai Rasulullah, Kisra Persia dan Kaisar Romawi dengan kemewahannya, sedangkan engkau seorang Rasul dalam keadaan seperti ini?”

Rasulullah kemudian menjawab, “Tidakkah kamu rela mereka mendapatkan apa yang ada di dunia sedangkan bagian kita ada di akhirat?”

Ini adalah gambaran yang paling jelas tentang kebahagiaan. Kebahagiaan bukan tentang rumah mewah, bukan istana yang megah. Akan tetapi kebahagiaan adalah hati yang lapang yang penuh dengan sifat zuhud terhadap dunia. Perhatikan Qarun, dimakah kebahagiaan yang dia punya? Begitu juga dengan Haman? Mereka ini hartanya ditenggelamkan di dunia, kemudian dilaknat di akhirat.

Kebahagiaan terletak pada keimanan, kesabaran,  berbuat kebaikan dan pengorbanan. Sebagaimana kondisi Bilal bin Rabbah, Salman al-Farisi dan Ammar bin Yasir. Mereka ini orang-orang yang dikatakan oleh Allah,

أُوْلَـئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ قُل لاَّ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْراً إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ

“Mereka itulah yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (Qs. al-An’am: 90)

أُوْلَئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجاوَزُ عَن سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ

“Mereka itulah orang-orang yang Kami Terima amal baiknya yang telah mereka kerjakan, dan (orang-orang) yang Kami Maafkan kesalahan-kesalahannya, (mereka akan menjadi) penghuni-penghuni surga. Itu janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.” (Qs. al-Ahqaf: 16)

KHUTBAH KEDUA

            Jama’atal mushallin rahimakumullah..

Semoga dengan khutbah ini kita menjadi ingat, bahwa kebahagiaan seorang muslim bukan dengan materi yang dia miliki atau yang tidak dia miliki. Tapi kebahagiaan seorang muslim adalah dengan keimanan yang selalu diusahakan untuk dimiliki.

Mari kita tutup khutbah pada siang hari ini dengan do’a.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ.

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ.

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَصْلِحْ وُلاَةَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ وَوَفِّقْهُمْ لِلْعَمَلِ بِمَا فِيْهِ صَلاَحُ اْلإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ.

اَللَّهُمَ لاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لاَ يَخَافُكَ فِيْنَا وَلاَ يَرْحَمُنَا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Disarikan dari: Dr. Muhammad bin Ahmad al-Dausiri

Comments

Popular posts from this blog

DAMPAK MENGERIKAN MAKANAN HARAM (khutbah Ust. Abdullah Manaf Amin)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله ..... لا اله الا الله و الله أكبر... الله أكبر و لله الحمد إِنَّ اْلحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ ونستغفره  ونستهديه و نتوب اليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهدى الله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له, أشهد أن لاإله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله, اللهم صلى على محمد وعلى اله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلي يوم الدين أما بعد, قال تعالى فى القران الكريم, أعوذ بالله من الشيطان الرجيم... يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ (ال عمرن: 102) يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً (النساء: 1) ياأيها الذين امنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله وؤسول...

Perbedaan Adat dan Urf dalam Disiplin Ilmu Ushul Fiqh

A.    Definisi Adat dan Urf Definisi adat: العادة ما استمرّ الناس عليه على حكم المعقول وعادوا اليه مرّة بعد أخرى Adat adalah suatu perbuatan atau perkataan yang terus menerus dilakukan oleh manusia lantaran dapat diterima akal dan secara kontinyu manusia mau mengulangnya.

Kapan Ibadah Kurban Disyariatkan?

Ibadah kurban telah disyariatkan bagi kaum muslimin pada tahun ke 2 hijriah di Madinah al-Munawwarah. Pada tahun ini juga disyariatkan kewajiban zakat atas kekayaan harta benda dan kesunnahan shalat ied bagi umat Islam. [1] Namun jika dilihat lebih jauh lagi syariat kurban telah ada di zaman nabi Adam as. seperti yang dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya, وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَاناً فَتُقُبِّلَ مِن أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban. Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): ‘Aku pasti membunuhmu!” berkata Habil: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertaqwa”. (Qs. al-Ma’idah [5]: 27) Kemudian ibadah kurban j...

Jual Buku Barisan Pemuda Zaman Nabi Muhammad Penerbit Aqwam

Open Order Buku Barisan Pemuda Zaman Nabi Muhammad Buku Barisan Pemuda Zaman Nabi Muhammad   – Saatnya anda memecahkan belenggu mata rantai kisah heroik fiktif Hollywood dan sejenisnya. Inilah idola nyata bagimu, WAHAI PEMUDA . Inilah buku pertama di Indonesia yang khusus membahas kisah para pemuda yang dikader langsung oleh Rasulullah Muhammad sebagai agen perubahan dunia. Dari kesekian pemuda itu ada yang menjadi Ulama, Komandan Militer, Diplomat, Ahli Beladiri, Ahli Ibadah, Ahli Tafsir, Penuntut ilmu, Intelektual, Saudagar muda yang dermawan, dan lain sebagainnya. Buku Barisan Pemuda Zaman Nabi Muhammad  ini dapat menjadi referensi unik dan inspiratif bagi para pemuda di zaman ini. Dalam buku ini dikisahkan karakter dan kelebihan di bidang masing-masing para pemuda zaman Nabi. Di antara mereka ada Mushab bin Umair. Hartawan bertabur kilau dunia dan semerbak wangi. Di antara mereka ada Ali bin Abi Thalib. Si perkasa yang kerahkan segenap tenaga untuk memb...

RUKUN ISLAM BUKAN KESELURUHAN ISLAM

Banyak orang yang salah kaprah menganggap rukun Islam adalah keseluruhan Islam. Padahal sebenarnya rukun Islam itu bukan keseluruhan Islam. Lima perkara yang ada dalam rukun Islam (syahadat, sholat, puasa, zakat, haji) itu baru sebagiannya. Memang Rasulullah SAW menyatakan bahwa Islam dibangun di atas 5 perkara. Tapi bukan berarti Islam itu adalah 5 perkara tersebut. Islam itu artinya seluruh aturan yang termuat dalam al-Quran dan as-Sunnah. dan 5 perkara itu adalah pondasinya. Keliru jika kita merasa punya bangunan atau rumah, padahal yang kita miliki baru pondasinya. Lima rukun Islam adalah produk kesimpulan para ulama. Produk rukun islam yang lima ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Umar bin Khathab   ra. dimana Rasulullah saw. bersabda, بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْم...

KAJIAN HADITS ‘KULLU QORDHIN JARRO NAF’AN FAHUWA RIBA’ DALAM PANDANGAN MUHADDITSIN DAN FUQAHA’

Oleh: Amri Yasir Mustaqim [1] Hadits كل قرض جر نفعا فهو ربا dikategorikan oleh muhadditsin sebagai hadits yang marfu’, mauquf dan juga maqtu’. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Hukum Syar'i Dalam Pembahasan Ilmu Ushul Fiqh

  Menurut Ibnu Hajib, pengertian hukum syar’i adalah titah ( khithab ) Allah yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf yang berupa tuntutan, pilihan atau ketentuan.

Apa Itu Ilmu Ushul Fiqh?

Sebelum kita mempelajari Ushul Fiqh semakin jauh, perlu kita ketahui terlebih dahulu tentang hakikat Ilmu Ushul F i qh. Karena dengan kita mengetahui hakikat Ushul Fiqh yang benar, berarti akan mengantarkan kepada pemahaman yang benar tentang ilmu ini.   ARTI USHUL FIQH SECARA BAHASA Untuk mengartikan kalimat Ushul Fiqh maka perlu ditelaah dari arti kedua kata tersebut. Kata Ushul Fiqh berasal dari bahasa Arab terdiri dari 2 kata. Kata pertama Ushul secara bahasa artinya segala hal yang menjadi terbangunnya sesuatu darinya. Sedangkan kalimat fiqh secara bahasa artinya pemahaman. Adapun secara istilah arti ushul bisa bermacam-macam. Pertama, ia bisa berarti dalil. Hal ini sebagaimana dalam kalimat: ‘ الأصل في هذه المسألة كذا ’ arti dari kata الاصل di sini adalah dalil. Kedua, berarti: kaidah yang berlaku. Hal ini sebagaimana dalam sebuah kalimat: ألأصل في الميتة التحريم . Sehingga arti الأصل dari kalimat tersebut adalah ‘kaidah yang berlaku’. Pada contoh lain misa...

Apakah Kekafiran Merupakan Takdir Yang Ditetapkan Allah?

  Kekafiran yang dilakukan oleh orang kafir adalah pilihan orang tersebut dan ketetapan Allah dalam waktu bersamaan. Hal ini bisa dijelaskan bahwa kufur dan iman itu perbuatan yang sifatnya pilihan bagi semua manusia. Selain itu juga kehendak yang telah ditetapkan oleh Allah bahwa pilihan-pilihan tersebut akan berkonsekuensi hukuman dan pahala. Tidak ada manusia yang merasa ditekan atau dipaksa untuk memilih hal tersebut.

Sejarah Singkat Ilmu Ushul Fiqih

Ushul fiqh yang kita pelajari hari ini tidak pernah dikenal pada awal agama Islam ini muncul. Hal ini dikarenakan para Salaf yaitu dari kalangan Sahabat, Tabi’in dan orang-orang selain mereka yang mana hidup di zaman awal-awal Islam, tidak membutuhkan kaidah-kaidah Ushul Fiqh . Alasannya karena mereka telah memiliki keahlian bahasa yang mumpuni dalam memahami setiap teks dari Nash al-Qur’an maupun al-Sunnah. Para salaf ini adalah orang-orang yang memahami bahwa Ism Fa’il itu kedudukannya marfu’. Begitu juga mereka adalah orang yang memahami bahwa huruf ما dalam bahasa arab berarti menjukkan makna ‘umum’. Mereka juga tahu bahwa huruf ما memiliki dua makna, pertama , memiliki arti ‘hakikat’ jika hal itu diletakkan pada sesuatu yang tidak berakal dan yang kedua, menjadi bermakna ‘majaz’ jika diletakkan pada sesuatu yang berakal. Sehingga dari pondasi pemahaman bahasa seperti inilah kemudian kaidah-kaidah ushul fiqih sudah terbentuk di kepala mereka. Dengan adanya pemahaman kaid...